Blog     Gambar     Video     Berita    
Topik Pilihan : Puisi Buat Guru     Pedoman BKR     Generasi Berencana     Terlambat Datang Bulan     Posisi Sex    
Tampilkan postingan dengan label PKBR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PKBR. Tampilkan semua postingan

Teman, Tempat Bertanya Remaja Soal Seks

Para remaja di Indonesia menjadikan teman pergaulan sebagai sumber utama dalam mencari informasi mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi. Teman pergaulan mengalahkan peran orang tua bahkan film porno sekalipun.

Survei menunjukkan, sebanyak 51 persen remaja berusia 15-25 tahun lebih memilih bertanya kepada teman mengenai seks. Bukan hanya itu, 75 persen dari 663 responden di 5 kota besar di Indonesia, mengatakan orangtua mereka tidak mengetahui aktivitas seksual yang mereka lakukan. Hanya 26 persen remaja yang mengaku mereka bersikap terbuka pada orangtuanya.

Demikian menurut hasil riset yang dilakukan DKT Indonesia, organisasi internasional yang berfokus pada pencegahan HIV-AIDS dan kontrasepsi. Survei dilakukan pada bulan Mei 2011 di Jakarta dan sekitarnya, Bali, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya.

Menanggapi hasil survei ini, Zoya Amirin, sexual psychologist mengatakan kebanyakan remaja memang malu berdiskusi dengan orangtua mereka mengenai masalah seksual.

"Mereka takut kalau bertanya karena pasti dituduh sudah pernah melakukan atau ingin melakukan hubungan seks," papar staf pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini di sela-sela pemaparan hasil survei seks di Jakarta (5/12/2011).

Padahal, menurut Zoya, di usia 15-19 tahun remaja perlu mengetahui pendidikan seksual. "Anak-anak ini harus tahu mengapa mereka merasakan dorongan seksual yang kuat. Di usia ini tanda-tanda seks sekunder juga sudah tampak," katanya.

Zoya menegaskan, para orangtua sebaiknya membimbing anak-anaknya memahami bahwa seksualitas adalah hal yang normal. "Jangan takut-takuti anak, jelaskan yang nyata dan sebenarnya," paparnya.

Ia mengungkapkan pelajaran biologi yang didapat anak di sekolah tidak bisa dijadikan andalan pendidikan seksual.

"Dalam mata pelajaran ini hanya diajarkan bagaimana pertemuan sel sperma dan sel telur. Padahal anak perlu informasi lebih dari itu. Orangtua juga wajib mengajari anak-anak mereka untuk berani berkata tidak jika memang tidak ingin berhubungan seks meski dibujuk pacar," katanya.

Ketidakberdayaan remaja perempuan dalam menolak rayuan pasangannya tergambar dari survei yang menyatakan 6 persen responden merasa dipaksa untuk berhubungan seks.
Sumber : Kompas

Read More »
22:01 | 0 komentar

Generasi Berencana

Assalamualaikum wr.wb
Salam sejahtera bagi kita semua

Persoalan ledakan penduduk terutama usia produktif harus menjadi perhatian serius semua pihak. Jika tidak, kita harus menghadapi banyak persoalan. Diantaranya, soal lapangan pekerjaan dan bakal terjadi baby boom tahap kedua.

Kita tahu, usia produktif berada pada usia kerja dan usia subur.Apalagi, jika kualitas pendidikan rendah bisa membawa akibat terjadinya pertumbuhan penduduk yang tinggi. Kualitas manusia yang rendah ini akan mengakibatkan banyak kerugian. Misalnya, kerugian ekonomi jangka pendek antara lain, rendahnya produktivitas, hilangnya waktu produktif, biaya karyawan naik, kapasitas terpakai perusahaan rendah. Sedangkan kerugian ekonomi jangka panjang yakni mutu tenaga kerja tetap rendah, TKI hanya sebagai tenaga kasar, pertumbuhan ekonomi lamban, dan daya saing di pasar global pun rendah.

Kekhawairan kita akan bertambah manakala usia angkatan kerja ini tidak terserap pasar kerja, secara baik. Maka, dapat dibilang, pengangguran merupakan sumber utama kemiskinan massal, baik kemiskinan materi maupun non-material.

Menyikapi persoalan ini, BKKBN, terus melakukan edukasi terhadap pelajar dan remaja. Melalui berbagai kegiatan remaja, sudah dilakukan edukasi sekaligus sosialisasi soal pentingnya ber-KB dalam membentuk keluarga.

Misalnya, saja, BKKBN di berbagai daerah telah menggelar lomba poster untuk kalangan pelajar di tingkat SMP dan SMA. Program lain yang sudah dilaksanakan adalah seni tari, teater, musik, dan lomba poster. Program ini kita namakan Program GenRe (Genarasi yang Punya Rencana).

Melalui kegiatan ini yang diselingi dengan informasi soal KB, kalangan muda memiliki planning (rencana) untuk bagaimana mempersiapkan keluarganya dengan perencanaan yang matang.Sehingga terbentuk keluarga yang ideal yakni cukup dengan dua anak.

Untuk itu, BKKBN juga menggandeng sejumlah mitra kerja seperti kelompok seniman, lembaga, hingga bekerjasama dengan SIKIB (Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu).Kita tidak hanya sebatas sosialisasi dan pagelaran sejumlah kegiatan namun memantau cara pandang atau pun persepsi usia remaja dan mahasiswa terhadap konsep GenRe.

Remaja dan mahasiswa hendaknya, harus dapat melihat serta merencanakan jauh ke depan, agar dapat mencapai kehidupan yang lebih baik dan sejahtera.
Memantapkan peran GenRe (Generasi Berencana)

Selaras dengan UU No 52 Tahun 1999 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga,
peran serta remaja dalam Program KB yang dalam hal ini diterjemahkan dalam pelembagaan keluarga kecil bahagia sejahtera menuju penduduk tumbuh
seimbang 2015, sangat strategis.

Remaja merupakan salah satu kelompok penduduk yang harus dibina secara terus menerus dan dimantapkan, sehingga memiliki sikap dan perilaku yang mendukung pelembagaan sekaligus pembudayaan NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera)

Harapannya, para remaja, mampu menjadikan dirinya dan anak cucunya kelak sebagai manusia Indonesia yang berkualitas, tidak saja cerdas, sehat dan terampil, namun bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki loyalitas, dedikasi, dan disiplin yang tinggi serta berbudi pekerti luhur.

Sebagai subyek, remaja atau generasi muda diharapkan berperan serta aktif mendukung pembangunan keluarga kecil bahagia sejahtera melalui berbagai kegiatan.

Sebelumnya, kita mengetahui ada PIK-KRR, yang kini diubah menjadi Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK Remaja). Programnya pun berubah menjadi Program Penyiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja (PKBR).

Nah, PIK Remaja dengan program PKBR nya sekarang ini diharapkan mampu memfasilitasi terwujudnya “Tegar Remaja” yakni remaja yang tidak saja berperilaku sehat dan terhindar dari risiko Triad KRR (Seksualitas, Napza dan HIV/AIDS) tetapi
juga remaja yang mau menunda usia perkawinannya hingga mencapai kedewasaan penuh.

Selain itu, bercita-cita mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (KKBS), serta mampu menjadi contoh, model, idola, dan sumber informasi bagi teman sebayanya. Semoga.

Wassalamualaikum wr.wb.
Sugiri Syarief
Kepala BKKBN


Read More »
01:44 | 0 komentar

Kesehatan Reproduksi Remaja akan Masuk Kurikulum Nasional

Kesehatan reproduksi bagi remaja akan dimasukkan dalam kurikulum pendidikan nasional. Demikian diungkapkan Deputi bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Sudibyo Alimoeso.

"Hal ini masih didalami oleh pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan," katanya di kantor BKKBN Jakarta, Rabu.

Sudibyo menjelaskan, pihak BKKBN hingga saat ini masih terus melakukan koordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mewujudkan hal tersebut.

"Masih terus kami koordinasikan, jikapun tidak masuk sebagai suatu mata pelajaran tersendiri kami harap kesehatan reproduksi remaja bisa terintegrasi ke dalam disiplin ilmu lainnya yang terkait," katanya.

Dia menambahkan, pihaknya menilai perlu segera diimplementasilkannya kesehatan reproduksi remaja ke dalam kurikulum pendidikan nasional agar seluruh remaja di Indonesia bisa mendapatkan pendidikan mengenai hal tersebut sejak dini.

"Minimnya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi remaja bisa berpengaruh pada perilaku seks remaja pranikah," katanya.

Ia menjelaskan, pada saat ini banyak permasalahan remaja yang sangat kompleks dan mengkhawatirkan. "Berbagai data menunjukkan bahwa penerapan pemenuhan hak reproduksi bagi remaja belum sepenuhnya mereka dapatkan antara lain dalam hal pemberian informasi," katanya.

Hal itu, tambah Sudibyo dapat dilihat dari masih rendahnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi yaitu tentang masa subur dan lain sebagainya.

Republika (22 Pebruari 2012)

Read More »
21:04 | 0 komentar

Cara Mengatasi Terlambat Datang Bulan

Cara Mengatasi Terlambat Datang Bulan 
"Kang.... saya mau tanya bagaimana cara mengatasi agar tidak terlambat bulan (Haid), soalnya pacar saya sudah 2 minggu terlambat..." begitu kira-kira untaian pesan yang dikirim via Inbox Facebook YASEMA Centre. Akhirnya kami mencoba searching di Google, untuk mencari artikel yang dapat mengatasi masalah sahabat tersebut. alhasil menurut pengamatan kami, lebih dari 15 situs/web/blog yang dikunjungi tidak ada satupun yang kami anggap realistis, hanya tawaran-tawaran obat dan jamu yang ditawarkan.

Dari pengalaman tersebut, akhirnya kami mencoba menjawab pertanyaan sahabat tersebut melalui artikel dibawah ini dengan judul cara mengatasi terlambat datang bulan.

Jika anda memang tidak pernah melakukan hubungan suami istri, tapi tetap masih mengalami keterlambatan datang bulan, maka hal ini haruslah dilakukan pengobatan lebih lanjut dengan menghubungi dokter terdekat, sementara bila anda terlambat datang bulan karena pernah melakukan hubungan seks, maka anda harus memastikan terlebih dahulu apakah anda memang benar-benar hamil atau hanya memang karena ada masalah yang membuat anda telat datang bulan.
  1. Stress
    Stress merupakan salah satu pemicu terlambatnya menstruasi, ini karena stress sangat mempengaruhi kondisi hormonal tubuh, sedangkan yang namanya siklus menstruasi itu erat sekali hubungannya dengan yang namanya hormon.
  2. Obat-obatan
    Obat-obatan seperti antidepresan, kortikosteroid, antipsikotik, serta obat kontrasepsi oral bisa menghambat datangnya si 'merah' setiap bulannya
  3. Instabilitas hormon
    Hormon yang tidak stabil dapat menyebabkan tidak stabilnya menstruasi, ini biasanya terjadi pada remaja putri pada masa pubertas dan wanita yang mendekati masa monopause.
  4. Pola makan
    Seseorang yang mempunyai pola makan banyak dan mendadak diet, ini akan berpengaruh pada siklus haidnya.
  5. Amenorrhea
    Amenorrhea adalah gangguan pada sistem reproduksi wanita, sehingga membuatnya tidak mengalami menstruasi secara rutin setiap bulannya. Amenorrhea terbagi menjadi primer dan sekunder. Untuk yang primer, menstruasi tidak terjadi sama sekali. Sedangkan untuk yang sekunder, menstruasi pernah terjadi namun siklus tersebut kemudian berhenti tanpa diketahui sebab pastinya.
  6. Hamil
    Hamil ini umum terjadi pada mereka-mereka yang telah menikah. 
Nahh... bagi yang belum menikah (bukan suami istri) untuk memastikan anda hamil apa tidak hamil, maka anda bisa melakukan test sendiri dengan membeli alat yang namanya test pack di apotik terdekat. Nah bila ketika saat sudah mencoba mengetes, namun hasilnya negatif, maka keterlambatan datang bulan anda adalah bukan karena faktor hamil. Kedepannya kami sarankan kepada anda adalah bahwa JANGAN ulangi lagi hubungan seks diluar nikah, sehingga anda tidak was-was lagi ketika sedang dalam keadaan terlambat datang bulan

Kemudian bila hasilnya tes adalah positif, maka sebenarnya anda sudah hamil, dan untuk memecahkan masalahnya adalah baiknya anda menikahlah segera dengan pasangan anda, agar nanti tidak membawa malu atas kehamilan anda diluar nikah. Bertanggung jawablah atas perbuatan yang telah anda lakukan bersama pacar anda, terlebih lagi jangan pernah terpikir oleh anda untuk mengugurkan (aborsi) kandungan anda, karena itu akan menambah beban DOSA anda, belum lagi faktor resiko yang bakal timbul bagi keselamatan 'si ibu' yang dapat mengakibatkan kemandulan, kanker rahim / kanker serviks bahkan kematian....   naudzubillah.

Read More »
14:20 | 15 komentar

Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Perkembangan Anak

Siapakah teman sebaya itu? Sebelumnya Anda perlu mengetahui apa itu teman sebaya. Teman sebaya adalah anak-anak dengan usia atau tingkat kedewasaan yang kurang lebih sama. Sedangkan fungsi yang paling penting dari kelompak teman sebaya adalah untuk memberikan sumber informasi dan perbandingan tentang dunia di luar keluarga. Interaksi teman sebaya yang memiliki usia yang sama memainkan peran khusus dalam perkembangan sosioemosional anak. Sebagai contoh, dalam sebuah studi, hubungan teman sebaya yang buruk pada masa kanak-kanak berhubungan dengan di keluarkannya si anak dari sekolah dan perilaku buruk selama masa remaja (Roff, Sells, & Golden, 1972). Dan dalam studi yang lain, hubungan teman sebaya yang harmonis pada masa remaja dihubungkan dengan kesehatan mental yang positif pada usia paruh baya (Hightower, 1990).

Selanjutnya yang perlu diketahui ialah jenis-jenis status dari teman sebaya. Antara lain, anak populer, anak biasa, anak yang terabaikan, anak yang ditolak, dan anak yang kontroversial. Mengapa persahabatan begitu berarti? Seorang anak yang tidak mempunyai banyak teman, secara emosional, secara emosional lebih sedih dibandingkan dengan anak yang mempunyai banyak teman. Kontribusi sebuah persahabatan pada status teman sebaya memberikan banyak manfaat. Antara lain manfaat pertemanan, dalam persahabatan memberikan anak seorang teman yang akrab yang bersedia untuk menghabiskan waktu dan bergabung dalam aktifitas kolaboratif. Selain itu juga, seorang sahabat dapat memberikan bantuan kapanpun dibutuhkan, sahabat dapat memberikan dukungan social, dapat memberikan suatu hubungan yang hangat, penuh kepercayaan sehingga timbul rasa nyaman dan adanya keterbukaan untuk berbagi informasi pribadi.

Akan tetapi ada yang perlu di waspadai juga yaitu perihal yang tidak menguntungkan dari pertemanan. Sebagai contoh seorang anak yang berteman dengan anak yang beberapa tahun lebih tua dapat berakibat buruk yaitu berperilaku menyimpang. Pada kesimpulannya, teman sebaya memainkan peran penting dalam perkembangan anak-anak dan sebenarnya peran pertemanan lebih cenderung pada lingkungan sekolah menengah ketimbang sekolah dasar. Karena bisa dilihat pada contoh konkret dalam kehidupan seorang remaja akan lebih bergantung pada teman-teman mereka daripada orangtua mareka sendiri. Mereka memuaskan kebutuhan pertemanan dan rasa berharga dengan dengan sahabat-sahabat mereka.


Kompasiana

Read More »
13:38 | 0 komentar

Pengen anak laki-laki atau perempuan ???

Artikel ini kami persembahkan kepada sobat (x) remaja yang bertanya kepada kami tentang bagaimana cara mendapatkan momongan laki-laki atau perempuan?, akhirnya kami coba googling dan mendapatkan artikel berikut ini sebagai media informasi PKBR bagi sobat-sobat remaj yang akan menyiapkan pernikahan kelak.

Berharap biasanya dilakukan oleh sebagian orang yang mempunyai suatu rencana pada waktu mendatang. Bagi beberapa orang yang tidak mempunyai sebuah rencana pada waktu dekat, anda dapat menyimpannya sebagai referensi.

Outline

Sperma laki-laki mengandung unsur spermatozoa X dan Y, spermatozoon X menentukan unsur perempuan sedangkan Y adalah unsur laki-laki. Berdasarkan sifat-sifat physiologi dari spermatozoa diatas, para ahli gynetika membuat teori dalam memilih untuk melahirkan bayi laki-laki atau perempuan.

1. Fator makanan :

Jika menginginkan seorang bayi perempuan, Suami harus makan makanan yang banyak mengandung Alkaline, sedangkan istri banyak makan makanan yang mengandung asam. Makanan yang banyak mengandung alkaline adalah : sayur-sayuran, buah-buahan, putih telur, susu, dan ganggang laut. Makanan yang banyak mengandung asam adalah : Daging, dan sea food (makanan laut).

Jika menginginkan bayi laki-laki. Suami harus banyak mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung asam, sedangkan istri harus banyak mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung alkaline (lihat jenis makanan diatas)

2. Faktor waktu (Kapan melakukan senggama ?)

Jika menginginkan seorang bayi perempuan, keseringan senggama dilakukan pada waktu sebelum masa haid. Jika menginginkan bayi laki-laki. Keseringan senggama dilakukan pada waktu mendekati masa haid dan atau segera sesudah masa haid.

Bagaimana mengetahui periode masa haid? Temperatur atau suhu tubuh meningkat (anda bisa menggunakan alat pengukur suhu tubuh dan mencatatnya sebagai record)

3. Faktor Penetrasi (tusukan)

Jika menginginkan seorang bayi perempuan, suami harus menghindari tusukan yang dalam kedalam kemaluan istri pada waktu senggama. Jika menginginkan bayi laki-laki, disarankan untuk melakukan tusukan yang dalam oleh suami pada waktu senggama. Alasan : Karakter dari Spermatozoa X dan Y. Spermatozoa X : Pelari maraton (jauh) dengan stamina yang tinggi ( kuat ) Spermatozoa Y : Pelari sprinter (cepat) dengan stamina yang loyo ( lemah ) Jadi, dengan tusukan yang dalam, kemungkinan untuk spermatozoa Y mencapai tujuan akan lebih besar.

4. Faktor Rangsangan

Jika menginginkan seorang bayi perempuan. Istri harus menhidari rangsangan selama senggama. Secresi cairan yang keluar dari kemaluan perempuan akan menjadi alkaline jika terangsang, hal ini akan mendorong aktifitas spematozoa Y. Jika menginginkan bayi laki-laki. Ejakulasi suami sesudah istri terangsang.

5. Faktor persiapan istri

Jika menginginkan seorang bayi perempuan. Cuci vagina dengan larutan dari dua sendok white vinegar yang sudah dicampur dalam satu liter air bersih. Hal ini dilakukan agar kondisinya menjadi asam sehingga aktifitas spermatozoon Y menurun. Jika menginginkan bayi laki-laki, cuci vagina dengan larutan dari dua sendok soda yang sudah dicampur dalam satu liter air bersih.

6. Faktor posisi

Jika menginginkan seorang bayi perempuan, posisi Istri pada waktu senggama diatas suami. Jika menginginkan bayi laki-laki, posisi suami pada waktu senggama berada diatas istri. Hal ini mengikuti sifat dari spermatozoon Y akan cepat menuju sasaran (sel telur).

Sumber : dr. Didi Kusmarjadi, SpOG dalam Konsultasi Via E-mail

Read More »
00:48 | 0 komentar

Pendidikan Seks Melalui Jalur PIK Remaja

Secara historis, sejak zaman dahulu prostitusi telah menjadi salah satu realitas dalam kehidupan manusia, di Indonesia mulai dari zaman pra kolonial (masa kerajaan) hingga kemerdekaan. Dalam tulisan Koentjoro (1989) bagaimana mengidentifikasi 11 kabupaten di Jawa yang dalam sejarah terkenal sebagai pemasok perempuan untuk kerajaan; dan sampai sekarang daerah tersebut masih terkenal sebagai sumber wanita pelacur untuk daerah kota. Daerah-daerah tersebut adalah Kabupaten Indramayu, Karawang, dan Kuningan di Jawa Barat; Pati, Jepara, Grobogan dan Wonogiri di Jawa Tengah, serta Blitar, Malang, Banyuwangi dan Lamongan di Jawa Timur. Kecamatan Gabus Wetan di Indramayu terkenal sebagai sumber pelacur dan menurut sejarah daerah ini merupakan salah satu sumber perempuan muda untuk dikirim ke istana Sultan Cirebon sebagai selir. (Hull, at al. 1997:2). Walaupun realitas ini bukan hanya ada di Indonesia bahkan secara umum juga di dunia.

Hingga samapai saat sekarang ini kita dapat menemukan dengan ‘mudah’ tempat- tempat yang menyediakan ‘jasa’ seks ini secara komersil, terutama kota- kota besar. Praktik prostitusi ini tidak hanya dengan adanya lokalisasi tetapi juga dilakukan secara terselubung, seperti kasus yang menggemparkan Kota Padang, Sumatera Barat yaitu terungkapnya penari telanjang (stiptis), Sumatera Barat yang nota benenya dikenal sebagai masyarakat yang memiliki adat dan agama yang kuat. Keberadaan tempat- tempat ‘bisnis lendir’ yang berkedok salon, warung kelambu, tepi- tepi rel kereta api, PSK (Pekerja Seks Komorsial) yang mangkal di tepi- tepi jalan ataupun menggunakan falisitas umum hingga menggunakan media elektronik melalui situs jejaring sosial. Artinya, keberadaan praktik seks bebas ini, telah menjadi ‘sesuatu’ yang tidak terelakan lagi, melainkan bagaimana adanya pengelolaan akan praktik ini secara terkontrol.

Efek sosial dari adanya realitas ini, telah berimbas kepada bentuk- bentuk pola prilaku, dekadensi moral, dan masalah sosial lainnya. Walaupun prostitusi pada dasarnya bukanlah masalah yang baru dan yang baru untuk diungkapkan, bahkan dapat dikatakan sebagai salah satu ciri dari sebuah kehidupan masyarakat terutama pada kehidupan kota, namun penulis tertarik kembali untuk mengungkapkannya karena adanya ‘keresahan’ atas ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan terhadap pandangan hidup serta efek kesehatan yang ditimbulkan dan merusak moral generasi muda (remaja). Pada dasarnya, menurut hemat penulis hampir diseluruh masyarakat ‘menolak’ praktik prostitusi, karena tidak sesuai dengan nilai dan norma. Disamping itu efek yang ditimbulkannya seperti IMS (Infeksi Menular Seksual), seperti penularan HIV/ AIDS, dan sipilis.

Tempat- tempat prostitusi terselubung ini biasanya di beberapa tempat umum. Menjadi menariknya, kasuistik ini adalah adanya ‘tawaran’ untuk pelayanan prostitusi ini dilakukan secara terang- terangan. Si penjaja seks komersial tidak sungkan untuk menawarkan diri, hingga jika sengaja atau tidak melewati tempat tersebut, mereka dengan beraninya menarik orang yang akan dijadikan sebagai pelanggannya. Hal ini tentu secara langsung atau tidak menjadikan keresahan tersendiri bagi masyarakat atau para remaja yang mungkin saja secara tidak sengaja melewati tempat tersebut karena berada pada perlintasan jalan tempat umum.

Pengalaman penulis sewaktu melakukan melakukan penelitian dengan sebuah LSM lokal yang bekerja sama dengan Hivos Belanda, penelitian tersebut studi kasus Kota Padang (2004), dimana diawali dengan melakukan wawancara dengan para pekerja seks komersial yang ditemui, dalam wawancara tersebut secara gamblang mereka melakukan pekerjaan seperti itu tak lebih kurang disebabkan karena ‘persoalan perut’ yaitu faktor ekonomi walaupun awalnya ‘menyelami’ perkerjaan sebagai PSK (Pekerja Seks Komersial) dilatar belakangi oleh berbagai macam faktor seperti rumah tangga yang tidak harmonis, hamil di luar nikah, ‘dilakoni’ mantan pacar dan sebagainya. Namun, secara garis besarnya selalu saja disebabkan karena masalah ekonomi, mendapatkan uang dengan cara yang dianggap ‘mudah’ dan bagi remaja yang coba- coba.

Selain itu yang menarik untuk dicermati secara bersama menurut hemat penulis adalah Pertama, sampai dimanakah kontrol masyarakat terhadap praktek prostitusi tersebut pada saat sekarang ini? apakah masyarakat dan pemerintah tidak mengetahui praktek ini? Sehingga tidak terpantaukan sebagai salah satu persoalan yang ‘tidak perlu untuk diselesaikan’ atau prkatek prostitusi tidak lagi sebagai suatu masalah. Kedua, dari beberapa pekerja seks yang pernah dan bahkan sering ditangkap dan dibina di tempat pembinaan PSK (Pekerja Seks Komersial), namun setelah mereka keluar dari tempat pembinaan, mereka kembali lagi untuk melakukan kekerjaan yang serupa.

Ketika ditanyakan dari PSK tersebut hanya mengatakan “kami mau kerja sebagai apa lagi? Orang- orang telah mencap kami sebagai wanita malam”. Ketiga, dalam prakteknya di tempat- tempat tersebut dapat dikatakan sebagai tempat ‘prostitusi kelas rendah’ di mana persoalan kesehatan tentu tak menjadi sesuatu yang terlalu difikirkan sehingga kecendrungannya penularan terhadap penyakit infeksi menular seksual (IMS) tentu lebih mudah terjadi. Keempat, belum adanya upaya dalam pemberitahuan kepada generasi muda dalam bentuk pendidikan seks, bahaya seks bebas bagi remaja, dan kesehatan reproduksi.

Hal ini menurut hemat penulis, perlu adanya suatu solusi yang lebih ‘menyentuh’ lagi kepada hal- hal yang subtansial mencari sebab mengapa mereka melakukan tindakan prostitusi serta mencarikan solusi pekerjaan apa yang yang sesuai dan memungkinkan untuk mereka dapat bertahan hidup dengan keadaan perekonomian yang cukup sehingga tidak kembali untuk melakukan praktek prostitusi lagi. Selain itu dirasakan perlunya adanya pembinaan dalam rumah tangga dan sekolah tentang pengetahuan seks.

Persoalan prostitusi mungkin bisa saja dianggap hal ‘sepele’ dan tidak terlalu menarik seperti hangat dan sengitnya persoalan pada ranah politik, namun secara subjektif penulis dan kita semua berharap semoga masalah ini menjadi perhatian kita bersama, agar tidak menjadi ‘sesuatu’ yang berefek besar untuk generasi dan kehidupan bermasyarakat nantinya bagi kelangsungan generasi bangsa Indonesia.

Kecenderungan perilaku seks bebas ‘ala prostitusi’ ini tentu saja membawa dampak terhadap kesehatan alat reproduksi, meningkatnya kasus penularan penyakit infeksi HIV/AIDS, tetapi juga tingginya jumlah kasus kehamilan di luar nikah yang memicu masalah lain yaitu meningkatnya jumlah praktek aborsi illegal yang berembet kepada masalah- masalah sosial.

Generasi muda (remaja) merupakan salah satu elemen yang perlu diperhatikan dalam masalah seks, karena masa usia remaja adalah masa yang rentan dalam fase pertumbuhan dan perkembangan manusia. Sering kali pada fase remaja ini terjadi hal- hal yang tidak diinginkan, terutama menjadi kecemasan bagi orang tua mereka. Dapat dipahami, kerena pada fase ini remaja yang sering kali juga disebut dengan masa ‘Pancaroba’, pencarian identitas diri, peralihan dari fase anak- anak menuju fase dewasa. Tidak jarang pada fase remaja ini kebanyakan remaja ‘terjebak’ dengan berbagai prilaku- prilaku menyimpang, seperti tawuran, narkoba hingga seks bebas (praktik prostitusi).

Dalam tayangan acara Kick Andy dengan tema “Ancaman Seks Bebas di Kalangan Remaja” diungkapkan hasil riset dari penelitian yang telah dilakukan oleh KOMNAS Perlindungan Anak (2007) ataupun BKKBN (2010), mengenai perilaku remaja yang melakukan hubungan seks pra nikah, menunjukkan kecenderungan meningkat.

Data hasil riset BKKBN misalnya, mengatakan bahwa separuh remaja perempuan lajang yang tinggal di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi telah kehilangan keperawanan dan mengaku pernah melakukan hubungan seks sebelum menikah, bahkan tidak sedikit yang mengalami kasus hamil di luar nikah. Ironisnya temuan serupa ternyata juga terjadi di kota-kota besar lainnya seperti Surabaya, Medan, Bandung, dan Yogyakarta.

Hasil yang sama juga ditunjukkan oleh riset yang dilakukan oleh Yayasan Kita dan Buah Hati (YKB) selama tahun 2010. Pada awalnya riset YKB lebih ke arah kesiapan anak menghadapi masa puberitasnya. Tetapi hal mengejutkan terjadi ketika YKB menemukan bahwa anak-anak (SD kelas 4 dan 5) justru memberikan informasi mengenai sejauh mana mereka telah mengetahui tentang pornografi, dan itu sangat tidak terbayangkan sebelumnya oleh para relawan YKB.

Kecenderungan perilaku seks bebas dikalangan usia 13 hingga 18 tahun ini tentu saja membawa dampak tidak hanya pada rentannya kesehatan alat reproduksi, selain meningkatnya kasus penularan penyakit infeksi HIV/AIDS, tetapi juga tingginya jumlah kasus kehamilan di luar nikah yang memicu masalah lain yaitu meningkatnya jumlah praktek aborsi ilegal (tayangan Kick Andy tanggal 28 Januari 2011 di Metro TV).

Perilaku seks bebas di kalangan remaja ini mungkin hanya salah satu implikasi masalah dari sederet persoalan yang dihadapi anak dan remaja dimasa sekarang. Sebab akibat yang ditimbulkan seperti efek domino yang dipicu dari habitat awal dimana seharusnya anak dan remaja ini tumbuh berkembang dengan sehat jasmani maupun rohani, yaitu keluarga dan lingkungan dan hukum, seperti larangan melakukan aborsi.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pendidikan seks sejak dini terutama bagi remaja yang rentan dalam usianya. Hal ini akan dapat lebih terwujud dengan baik tentu dengan adanya kerjasama dan perhatian dari orang tua terutama sekali, di sekolah dapat saja memasukan materi tentang seks pada mata pelajaran Bimbingan Konseling, Budi Pekerti atau pada kegiatan ekstrakulikuler dan kerjasama dengan organisasi atau LSM yang bergiat dalam konsentrasi masalah yang serupa seperti PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) dan semuanya itu diwadahi dalam kegiatan PIK Remaja (Pusat Informasi dan Konseling Remaja) di sekolah- sekolah.

PIK remaja dalam tatanan idealnya, dapat dijadikan sebagai wadah untuk para remaja untuk dapat mengakualitasi diri mereka untuk melakukan berbagai macam kegiatan yang posistif. Baik dalam pengembangan diri, pendalaman pengetahuan yang tidak didapatkan pada mata pelajaran yang ada pada kurikulum di sekolah (pengetahuan seks). Mulai dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Perguruan Tinggi (PT) atau sekolah- sekolah lainnya. Diharapkan institusi pendidikan dapat dengan ‘terbuka’ untuk bermitra dengan BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana) untuk memfasilitasi remaja dalam memenuhi kebutuhan perkembangannya untuk membentuk PIK Remaja pada lembaga pendidikan tersebut.

Tantangan terbesar selama ini terhadap belum dapat menerimanya masyarakat Indonesia terhadap masalah seks, terutama untuk diperbincangkan secara ilmiah, terutama pada lembaga pendidikan, tidak lain tersebab budaya, cara pandang orang timur yang masih menganggap ‘tabu’ masalah seks. Oleh karena itu perlunya penulis pikir untuk membuka mind set masyarakat Indonesia, bahwa sudah saatnya bangsa ini menjadikan pendidikan seks menjadi salah satu materi pelajaran bagi remaja.

Banyak kasus kita lihat bagaimana remaja melakukan seks bebas dan praktik prostitusi. Praktik tersebut tidak hanya ‘dikonsumsi secara privasi’ bahkan dipublikasikan pada media elektronik, bahkan dengan mudahnya kita menemukan situs- situs praktik seks bebas (prostitusi) yang dilakukan remaja. Dalam PIK Remaja, remaja diasah untuk ‘menggunakan’ energi yang mereka miliki dalam upaya pengembangan potensi yang mereka miliki. Baik secara individual maupun mengembangan kepedulian sosial (belajar bekerjasama, menghargai individu lain). Sehingga sejak dini generasi muda (remaja) telah terlatih dan memiliki pemahaman terhadap seks dan bahaya seks bebas, kesehatan reproduksi dan pengenalan akan alat- alat kontrasepsi.

Dukungan dari institusi pendidikan sangat besar dalam pembentukan, pengelolaan, dan pengembangan PIK KRR di sekolah- sekolah. Baik dalam bentuk sosialisasi pentingnya PIK Remaja, pengarahan dan bimbingan, hingga penyediaan fasilitas fisik yang dibutuhkan. Dengan adanya PIK Remaja ini diharapkan dapat mengurangi resiko terhadap terjadinya seks bebas pada remja, karena menurut hemat penulis pada saat sekarang ini free sexs tidak dapat di stop lagi namun kita dapat memberikan pemahaman terhadap apa itu seks dan bahayanya jika dilakukan pra nikah (save sex) serta mengancam masa depan mereka. Sehingga melalui PIK Remaja dapat dijadikan alternatif dapat menggali dan mengoptimalkan potensi seluruh anak bangsa untuk menuju rakyat sejahtera. Semoga.

Read More »
00:29 | 0 komentar

Kekerasan dalam Pacaran (KDP)

Pacaran adalah hubungan antara pria dan wanita yang diwarnai keintiman dimana satu sama lain terlibat dalam perasaan cinta dan saling mengakui pasangannya sebagai pacar. Melalui berpacaran seseorang akan mempelajari mengenai perasaan emosional tentang kehangatan, kedekatan dan berbagi dalam hubungan dengan orang lain. Salah satu tugas perkembangan dewasa muda adalah berkisar pada pembinaan hubungan intim dengan orang lain.

Namun pada kenyataannya, seringkali terjadi bahwa pacaran yang dilakukan remaja dapat menjurus kepada hal-hal yang negatif, misalnya pacaran diiringi dengan perilaku seksual pranikah, kekerasan dalam berpacaran, bahkan tidak jarang terjadi kasus-kasus pembunuhan, perkosaan hingga maraknya kasus-kasus hubungan seksual yang direkam melalui handphone. Salah satu fenomena yang saat ini semakin banyak muncul pada hubungan berpacaran adalah kekerasan dalam pacaran (KDP).

Data kasus kekerasan yang ditangani oleh Jaringan Relawan Independen (JaRI) periode April 2002-Juni 2007, yakni, dari 263 kasus kekerasan yang masuk, ada 92% korban perempuan (sekitar 242 orang). Dimana sepertiganya merupakan kekerasan dalam pacaran (KDP). Sementara itu, kasus kekerasan dalam pacaran (KDP) dan perkosaan pun menjadi kasus dominan yang ditangani Rifka Annisa Women`s Crisis Center asal Yogyakarta, setelah kekerasan terhadap istri. Selama 14 tahun terakhir, dari 3.627 kasus kekerasan terhadap perempuan yang terungkap, sekitar 26 % di antaranya adalah kekerasan dalam pacaran (KDP) dan perkosaan. Rifka Annisa (2002) mencatat bahwa kekerasan terhadap perempuan yang terjadi antara bulan Januari-Juli 2002 tercatat sebanyak 248 kasus. Dimana 60 kasus merupakan kekerasan pada masa pacaran (KDP) dan perkosaan 30 kasus.

Fenomena kekerasan dalam pacaran (KDP) sebenarnya seperti gunung es. Sebab, angka-angka tersebut hanya berdasar pada jumlah kasus yang dilaporkan, padahal dalam kenyataannya, tidaklah mudah bagi korban kekerasan melaporkan kasus yang dialaminya.


Kekerasan dalam Pacaran (KDP)

Banyak orang yang peduli tentang kekerasan yang terjadi di dalam rumah tangga (Domestic Violence), namun masih sedikit yang peduli pada kekerasan yang terjadi berpacaran (Kekerasan Dalam Pacaran/KDP) atau Dating Violence). Banyak yang beranggapan bahwa dalam berpacaran tidaklah mungkin terjadi kekerasan, karena pada umumnya masa berpacaran adalah masa yang penuh dengan hal-hal yang indah, di mana setiap hari diwarnai oleh manisnya tingkah laku dan kata-kata yang dilakukan dan diucapkan sang pacar.

Kekerasan dalam Pacaran (KDP) adalah perilaku atau tindakan seseorang dapat disebut sebagai tindak kekerasan dalam percintaan atau pacaran apabila salah satu pihak merasa terpaksa, tersinggung dan disakiti dengan apa yang telah dilakukan oleh pasangannya pada hubungan pacaran. Suatu tindakan dikatakan kekerasan apabila tindakan tersebut sampai melukai seseorang baik secara fisik maupun psikologis, bila yang melukai adalah pacar maka ini bisa digolongkan tindak kekerasan dalam pacaran (KDP).

Sebenarnya kekerasan ini tidak hanya dialami oleh perempuan atau remaja putri saja, remaja putra pun ada yang mengalami kekerasan yang dilakukan oleh pacarnya. Tetapi perempuan lebih banyak menjadi korban dibandingkan laki-laki karena pada dasarnya kekerasan ini terjadi karena adanya ketimpangan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan yang dianut oleh masyarakat luas. Ketidakadilan dalam hal jender selama ini telah terpatri dalam kehidupan sehari-hari, bahwa seorang perempuan biasa dianggap sebagai makhluk yang lemah, penurut, pasif, mengutamakan kepentingan laki-laki dan lain sebagainya, sehingga dirasa “pantas” menerima perlakuan yang tidak wajar atau semena-mena.

Payung hukum terhadap terjadinya tindak kekerasan terhadap perempuan, sebetulnya sudah cukup terakomodasi melalui UU No. 23 tahun 2004 tentang KDRT. Namun untuk kekerasan dalam pacaran (KDP), belum ada payung hukum khusus, dan masih menggunakan KUHP sebab dianggap kasus kriminal biasa. Kekerasan dalam pacaran (KDP) bisa masuk dalam KDRT, karena kekerasan yang terjadi dalam relasi domestik, antara laki-laki dan perempuan yang memiliki hubungan khusus.

Hal yang khas yang sering muncul dalam kasus kasus kekerasan dalam pacaran adalah bahwa korban biasanya memang cenderung lemah, kurang percaya diri, dan sangat mencintai pasangannya. Apalagi karena sang pacar, setelah melakukan kekerasan (menampar, memukul, nonjok, dll) biasanya setelah itu menunjukkan sikap menyesal, minta maaf, dan berjanji tidak akan mengulangi tindakan kekerasan lagi, dan bersikap manis kepada pasangannya. Pada dasarnya, hubungan pacaran adalah sarana melatih keahlian individu dalam kepekaan, empati, kemampuan untuk mengkomunikasikan emosi dan menyelesaikan konflik serta kemampuan untuk mempertahankan komitmen. Jika individu mampu mengkomunikasikan emosi dan menyelesaikan konflik dengan baik niscaya kekerasan dalam pacaran (KDP) tidak akan terjadi. Berkaitan dengan hal tersebut, penulis menduga bahwa salah satu penyebab terjadi kekerasan dalam pacaran (KDP) adalah rendahnya tingkat asertivitas individu. Rendahnya asertivitas tersebut tampak ketika individu cenderung menerima segala bentuk perlakuan oleh pasangannya, meskipun sebetulnya individu merasa tersiksa. Asertif berfungsi sebagai mengkomunikasikan emosi dan menyelesaikan konflik dalam berpacaran.

Read More »
16:11 | 0 komentar

Konselor Sebaya (KS)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence). 
Masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.
Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).
Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991). Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya (Beyth-Marom, et al., 1993; Conger, 1991; Deaux, et al, 1993; Papalia & Olds, 2001). Conger (1991) dan Papalia & Olds (2001) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991).
Remaja yang bermasalah lebih senang bercerita pada sahabatnya, daripada memilih guru konseler. Memanfaatkan momentum inilah perlunya dibentuk konseling teman sebaya. Terbentuknya Konselor Teman Sebaya (KTS) ini diharapkan bisa membantu guru Bimbingan Konseling (BK).

1.2 Tujuan KTS
  • Dapat membantu konselor dalam menangani siswa yang bermasalah
  • Membantu beberapa siswa yang sulit terbuka dengan konselor dalam menghadapi masalahnya
  • Membantu konselor dalam menuntaskan bimbingan dan konseling bagi setiap siswa
1.3 Fungsi dan manfaat KTS 
  • Menurut Krumbolth (1976) fungsi KTS :
  1. Membantu siswa lain memecahkan permasalahannya.
  2. Membantu siswa lain yang mengalami penyimpangan fisik.
  3. Membantu siswa-siswa baru dalam menjalani pekan orientasi siswa untuk mengenal sistim dan suasana sekolah secara keseluruhan.
  4. Membantu siswa baru membina dan mengembangkan hubungan baru dengan teman sebaya dan personil sekolah.
  5. Melakukan tutorial dan penyesuaian sosial bagi siswa-siswa asing (kalau ada).
  • Manfaat KTS untuk siswa menurut Hamburd (1972) :
  1. Siswa memiliki Kemampuan melakukan pendekatan dan membina percakapan dengan baik serta bermanfaat dengan orang lain.
  2. Siswa memiliki Kemampuan mendengar, memahami dan merespon (3M), termasuk komunikasi nonverbal (cara memandang, cara tersenyum, dan melakukan dorongan minimal).
  3. Siswa memiliki Kemampuan mengamati dan menilai tingkah laku orang lain dalam rangka menentukan apakah tingkah laku itu bermasalah atau normal.
  4. Siswa memiliki Kemampuan untuk berbicara dengan orang lain tentang masalah dan perasan pribadi.
  5. Siswa memiliki Kemampuan untuk menggunakan keputusan yang dibuat dalam konseling mengahadapi permasalahan-permasalahan pribadi, permasalahan kesehatan, permasalahan sekolah, dan permasalahan perencanaan hubungan dengan teman sebaya.
  6. Siswa memiliki Kemampuan untuk mengembangkan tindakan alternatif sewaktu menghadapi masalah.
  7. Siswa memiliki Kemampuan menerapkan keterampilan interpersonal yang menarik untuk mengusahakan terjadi pertemuan pertama dengan siswa yang minta tolong.
  8. Siswa memiliki Kemampuan untuk mengembangkan keterampilan observasi atau pengamatan agar dapat membedakan tingkah laku abnormal dengan normal; terutama mengidentifikasi masalah dalam menggunakan minuman keras, masalah terisolasi, dan masalah kecemasan
  9. Siswa memiliki Kemampuan mengalih tangankan konsli untuk menolongnya memecahkan masalahnya jika dalam KTS tidak dapat menyelesaikan.
  10. Siswa memiliki Kemampuan mendemontrasikan kemampuan bertingkah laku yang beretika.
  11. Siswa memiliki Kemampuan mendemontrasikan pelaksanaan strategi konseling.

Konseling teman sebaya juga bermanfaat untuk mengajar siswa-siswa dengan cara efektif, membantu kawan-kawannya untuk meringankan perasaan terisolir, dan kesepian di sekolah. Disamping itu siswa yang menjadi konselor teman sebaya dapat berlatih mengatasi masalah mereka sendiri dengan cara yang rasional, positif dan bermoral.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian KTS (Konseling Teman Sebaya)

Konseling teman sebaya
adalah program bimbingan yang dilakukan oleh siswa terhadap siswa yang lainnya. Siswa yang menjadi pembimbing sebelumnya diberikan latihan atau pembinaan oleh konselor. Siswa yang menjadi pembimbing berfungsi sebagai mentor atau tutor yang membantu siswa lain dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, baik akademik maupun non-akademik. Di samping itu dia juga berfungsi sebagai mediator yang membantu konselor dengan cara memberikan informasi tentang kondisi, perkembangan, atau masalah siswa yang perlu mendapat layanan bantuan bimbingan atau konseling.
Program konseling teman sebaya mempunyai alasan-alasan yang rasional, terstuktur, aktifitasnya khas atau spesifik, personal yang melakukannya juga khusus dan diorganisir secara terus menerus. Program ini merupakan usaha mempengaruhi (memperbaiki tingkah laku yang dimiliki oleh siswa), yaitu tingkah laku yang dapat membedakan antara tingkah laku yang pantas dengan tidak pantas, dan menggunakan tingkah laku yang pantas menjadi identitas pribadi yang diharapkan, serta menemukan berbagai cara pemecahkan masalah, dan memberikan pengalaman yang memberikan motifasi mengikuti pelatihan untuk pengembangan diri mereka sebagai orang dewasa yang matang dan bertanggung jawab.
Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar.
Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991).
Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya (Beyth-Marom, et al., 1993; Conger, 1991; Deaux, et al, 1993; Papalia & Olds, 2001). Conger (1991) dan Papalia & Olds (2001) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991).

2. Mencapai Kematangan Dalam Hubungan Teman Sebaya untuk menyelesaikan Masalah 

Keeratan, keterbukaan, dan perasaan senasib muncul di antara sesama remaja dapat menjadi peluang bagi upaya memfasilitasi perkembangan remaja. Disisi lain beberapa karakteristik psikologis remaja, misalnya emosional, labil, juga merupakan tantangan bagi efektifitas layanan terhadap mereka. Pentingnya teman sebaya bagi remaja tampak dalam konformitas remaja terhadap kelompok sebayanya. Konselor sebaya bukanlah konselor profesional atau ahli terapi. Mereka adalah para siswa (remaja) yang memberikan bantuan kepada siswa lain di bawah bimbingan konselor ahli. Dalam konseling sebaya, peran dan kehadiran konselor ahli tetap diperlukan. Dalam model konseling ini terdapat hubungan Triadik antara konselor ahli, konselor teman sebaya dan konseli teman sebaya.
Menurut Dr.Suwarjo, dosen Bimbingan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNY memaparkan bahwa saat seorang remaja mendapatkan sebuah masalah, mereka lebih banyak sharing (curhat) kepada teman sebaya daripada kepada guru atau orang tua. Hal ini disebabkan karena sesama remaja tahu persis lika-liku masalah itu dan lebih spontan dalam mengadakan kontak.Masih menurut doktor bidang BK ini, konselor sebaya terlatih yang direkrut dari jaringan kerja sosial memungkinkan terjadinya sejumlah kontak yang spontan dan informal. Kontak-kontak yang demikian memiliki multiplying impact pada berbagai aspek dari remaja lain.
Bahkan, dapat menjadi jembatan penghubung antara konselor profesional dengan para siswa (remaja) yang tidak sempat berjumpa dengan konselor.Sesuai dengan kemampuannya, konselor sebaya diharapkan mampu menjadi sahabat yang baik. Ia minimal menjadi pendengar aktif bagi teman sebayanya yang membutuhkan perhatian. Selain itu, ia juga mampu menangkap ungkapan pikiran dan emosi di balik ekspresi verbal maupun non verbal, berempatik tulus, dan bila memungkinkan mampu pecahkan masalah sederhana tersebut.
Sumber : Azay Kun

Read More »
13:05 | 0 komentar

Menjaga vagina tetap kering dan bersih

Kemaluan wanita alias Miss V harus dijaga kelembabannya agar tidak terlalu basah. Sehabis buang air kecil misalnya vagina harus dijaga agar tetap kering. Kenapa harus begitu?

Vagina merupakan salah satu organ tubuh yang sensitif sehingga harus dijaga kebersihan dan kelembabannya. Jika terlalu basah maka akan memicu infeksi dan tempat berkumpulnya bakteri.

Setiap perempuan memiliki vagina yang unik, meskipun ditemukan beberapa karakteristik yang umum. Vagina juga memproduksi cairan sebagai respons terhadap gairah seksual dan aktivitas fisik. Selama cairan tersebut tidak berubah warna dan tidak berbau maka hal ini adalah normal.

Untuk menjaga kebersihan dan kesehatan vagina, sebaiknya perempuan harus menjaga agar daerah vulva dan juga vaginanya tetap bersih dan kering. Hal ini untuk menghindari terjadinya infeksi pada vagina, seperti dikutip dari Womenshealth.about, Senin (18/4/2011).

Lingkungan sekitar vagina yang lembab bisa menyebabkan bakteri dan jamur yang ada tumbuh dengan pesat, karena kondisi itu merupakan lingkungan yang ideal bagi jamur dan bakteri untuk berkembang biak. Jika hal ini terus menerus dibiarkan bisa menyebabkan infeksi lebih lanjut.

Infeksi yang paling sering terjadi disebabkan oleh jamur Candida albicans yang biasanya ditandai dengan keluhan keputihan, rasa gatal di daerah bibir vagina, rasa sakit serta seperti terbakar ketika buang air kecil.

Selain itu dengan menjaga vagina tetap kering dan bersih akan membuat ekosistem alami yang ada di vagina tetap terjaga, sehingga bakeri baik lactobacillus akan tumbuh subur yang membuat infeksi bisa dicegah.

Untuk menjaga agar daerah kewanitaan ini tetap bersih dan kering, ada beberapa hal yang bisa dilakukan yaitu :

  1. Membersihkan vagina dengan menggunakan air mengalir dari depan ke belakang baik setelah buang air kecil atau buang air besar, hal ini untuk mencegah bakteri dari anus masuk ke vagina.
  2. Keringkan daerah vagina dan sekitarnya dengan menggunakan tisu atau handuk kecil, dan mengganti celana dalam jika terasa lembab atau basah.
  3. Gunakan pakaian yang tidak terlalu ketat terutama di bagian daerah selangkangan karena bisa memicu keringat berlebih.
  4. Gunakan celana dalam dari bahan katun karena menyerap keringat dengan baik dan hindari bahan nilon karena bisa mengurangi aliran udara ke daerah vagina. Serta gantilah celana dalam minimal 2 kali sehari.
  5. Mengganti pakaian renang atau basah akibat keringat setelah berolahraga secepat mungkin.
  6. Mengganti pembalut secara teratur selama menstruasi, pilihlah pembalut yang tidak menyebabkan iritasi.
  7. Jika memang terpaksa harus menggunakan patyliner sebaiknya tidak dipakai seharian, karena bisa meningkatkan kelembaban yang berpotensi bagi jamur untuk berkembang biak. Serta pilihlah pantyliner yang tidak mengandung parfum.


Read More »
02:48 | 0 komentar

Anda Putus Cinta ?... Hindari Hal Ini !!!

Masa muda adalah masa dimana masih memiliki keinginan untuk mencari yang sesuai dengan hati. Tetapi hal itu tentunya diiringi dengan yang namanya putus cinta yang berujung pada sakit hati.

Seperti dilansir dari wolipop, melupakan mantan kekasih yang pernah menyakiti hati memang bukan hal mudah, apalagi hubungan yang telah terbina cukup lama. Hal tersebut membuat wanita sering kali melakukan hal-hal yang membuatnya semakin mengingat sang mantan.

Agar tidak terjebak dalam kenangan masa lalu bersama si dia, ada beberapa hal-hal yang semestinya tidak boleh Anda lakukan ketika baru putus cinta. Dilansir dari HuffingtonPost, ini dia di antaranya.

Menghubungi mantan kekasih merupakan kesalahan yang paling sering dilakukan wanita. Mungkin Anda merindukan suaranya, tetapi sebaiknya Anda tidak lagi menghubungi dan mencari tahu tentangnya lagi. Menghubungi mantan kekasih malah membuat Anda semakin sulit melupakannya.

Ingin menunjukkan Anda bisa move on darinya lalu mencari kekasih baru, bukan lah solusi yang tepat. Jika memang kondisi belum stabil dan hati belum siap untuk jatuh cinta, sebaiknya jangan dipaksakan. Terlalu cepat mengambil keputusan untuk memulai hubungan baru, bisa berujung pada penyesalan. Anda mungkin akan kembali merasakan sakit hati atau sebaliknya, orang lain yang merasakan sakit hati karena Anda.

Curhat dengan sahabat memang bisa sedikit meredakan sakit hati. Tapi, jangan sampai Anda terus membicarakan mantan kekasih setiap kali bertemu dengan teman-teman. Bukan hanya membuat teman Anda bosan mendengarnya, sering membahas mantan kekasih membuat Anda terus mengenangnya dan menjadi sulit melupakannya.

Twitter dan Facebook sering kali menjadi media untuk menyalurkan perasaan yang sedang sedih. Sah-sah saja bila sesekali mem-posting status sedih dan galau, tapi jangan keseringan, apalagi sampai menjelekkan mantan. Anda bisa membuat suasana semakin panas dan dianggap lemah olehnya. Selain itu, orang-orang yang membaca postingan Anda akan menilai buruk Anda.


Read More »
02:35 | 0 komentar

Mengapa Pria Mimpi Basah?

Anak laki-laki yang sudah memasuki masa pubertas, normalnya akan mengalami mimpi basah. Untuk pertama kali, hal ini mungkin terasa aneh, tapi ini adalah hal yang wajar. Mengapa pria mengalami mimpi basah?

Mimpi basah (orgasme spontan) atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan emisi nokturnal, merupakan pengeluaran cairan semen (air mani) di waktu tidur yang biasanya terjadi ketika seorang laki-laki sudah memasuki masa pubertas.
Dilansir dari YoungMensHealthSite, Senin (5/7/2010), emisi noktural biasanya terjadi karena adanya peningkatan hormon testosteron atau kelebihan cairan semen yang tidak dikeluarkan melalui hubungan seksual dan masturbasi.

Emisi noktural ini terjadi karena adanya tekanan atau stimulasi pada alat kelamin oleh kasur atau seprai, mimpi erotis, kandung kemih penuh atau kenangan dari aktivitas atau pikiran seksual.

Mimpi basah ini terjadi pada saat seseorang mengalami tidur dalam atau tidur REM (gerakan mata cepat atau rapid eye movement), yaitu tahap tidur yang mana mimpi terjadi. Yang kemudian laju respirasi dan aktivitas otak meningkat, serta otot-otot menjadi lebih rileks, yang ditandai dengan gerakan bola mata yang cepat.

Pada saat tidur dalam itu, pria biasanya mengalami ereksi sekitar 3-5 kali. Bila ia mengalami stimulasi kelamin atau mimpi erotis, maka dimungkinkan terjadinya ejakulasi atau orgasme saat tidur, atau yang disebut dengan mimpi basah.

Kebanyakan pria mengalami emisi noktural ketika remaja atau dewasa muda, sekitar usia 20-an dan 30-an tahun. Tapi tak jarang pula pria dewasa tua yang mengalaminya.

Frekuensi emisi noktural bisa sangat bervariasi di antara pria, tergantung pada usia dan status perkawinan. Dilansir dari TimesOnline, remaja usia 15 tahun rata-rata mengalami 0,36 kali seminggu atau sekitar 1-2 kali sebulan. Sedangkan orang yang sudah menikah usia 50 tahun bisa mengalaminya 2 bulan sekali.

Frekuensi ini cenderung berkurang seiring usia. Tapi banyak pria yang terus mengalaminya hingga usia 70-an tahun.

Seorang remaja mungkin memiliki kesulitan mengingat mimpi atau merasa bingung ketika mengalami mimpi basah. Beberapa orang bangun karena merasa risih saat tempat tidurnya basah. Tapi hal ini sepenuhnya normal dan tak perlu malu.

Read More »
01:36 | 0 komentar

Robekan Persalinan Sering Dialami Wanita Asia

Ibu melahirkan di Asia sembilan kali lebih sering mengalami robekan persalinan dibandingkan dengan wanita lain secara global. Robekan persalinan ini banyak dialami mereka yang melahirkan secara normal untuk pertama kali, bayi divakum, atau bayi dengan posisi menghadap jalan lahir.


Robekan untuk melancarkan persalinan ini biasanya dilakukan di area perineum, daerah antara vagina dan anus. Ketika mengalami perobekan itu, baik yang alami maupun disengaja (episiotomi), ditengarai akan mengakibatkan gangguan fungsi dasar otot panggul. Misalnya, tidak bisa mengontrol BAK dan BAB pasca-melahirkan atau nyeri saat berhubungan seks.

Luka akibat episiotomi ini juga lebih rentan infeksi. Selain itu, robekan perineum yang terlalu lebar juga memerlukan lebih banyak jahitan.

Dalam American Journal of Obstetrics and Gynecology, peneliti dari Israel menyebutkan, dari 38.252 persalinan secara normal di rumah sakit, ditemukan 96 robekan yang cukup parah. Wanita Asia lebih sering mengalami robekan ini dengan 2,5 persennya berada pada robekan skala tiga dan empat.

Para peneliti memang belum mengetahui mengapa wanita Asia lebih sering mengalami hal tersebut. Namun, ada dugaan perineum wanita Asia lebih pendek sehingga kemampuan ototnya untuk meregang lebih rendah. Penyebab lainnya adalah ukuran bayi yang terlalu besar akibat pola makan yang tinggi lemak.

female.kompas



Read More »
19:13 | 0 komentar

Strategi Pembinaan Kesehatan Reproduksi Anak Usia Pendidikan Dasar

Di negara-negara berkembang 12,2 milyard anak usia di bawah 5 tahun meninggal setiap 5 tahun, dengan penyebab kematian yang sebenarnya dapat dicegah hanya dengan beberapa dolar saja. Sebagian besar dari mereka meninggal karena ketidak acuhan dunia, karena kemiskinannya. Walaupun kelompok usia lanjut akan naik dua kali lipat pada tahun 2005, akan tetapi proporsi terbesar adalah usia di bawah 15 tahun diperkirakan 30,2%; angkatan kerja bertambah dengan pertumbuhan 2,3% dan wanita yang memasuki pasar kerja meningkat 4 kali lipat pada tahun 2000 (Depkes, 1999). 

Pernah diberitakan ada seorang bayi yang mati di pangkuan ibunya sebelum sempat mendapatkan imunisasi, walaupun kenyataan menunjukkan bahwa 8 dari 10 anak di dunia telah mendapatkan vaksinasi untuk melawan 5 penyakit utama yang sering menyerang anak-anak, tidak akan dapat membendung duka orang tua.
Sejak tahun 1980 angka kematian bayi telah turun 25% sedangkan angka harapan hidup meningkat menjadi 65 tahun. Jurang antara si miskin dan si kaya, antara satu populasi dengan lainnya, antara umur, seks, terlihat semakin mendalam. 

Sehingga sebagian orang di dunia berpendapat bahwa sekarang ini setiap langkah kehidupan mulai dari anak-anak sampai orang tua mulai dibayang-bayangi oleh kemiskinan, ketidakadilan dan beban penderitaan serta penyakit.

Untuk sebagian orang, prospek peningkatan angka harapan hidup justru terlihat sebagai hukuman, bukan anugerah. Walaupun sebelum akhir abad ini, kita sudah dapat hidup di dunia tanpa poliomyelitis (radang akut sumsum tulang belakang disebabkan adanya virus), tanpa kasus baru lepra, kematian neonatal akibat tetanus dan meastes, tapi dana yang dipergunakan untuk menjaga dan meningkatkan taraf kesehatan di negaranegara berkembang saat ini, hanyalah sekitar 4 dolar Amerika. Suatu jumlah yang kirakira sama dengan uang recehan atau uang kembalian yang biasa terdapat di kantong atau dompet orang-orang di negara maju. 

Seorang yang hidup di negara termiskin, memiliki angka harapan hidup 43 tahun, di negara maju memiliki angka harapan hidup 78 tahun (WHO, 2000 ). Seorang yang kaya dan sehat memiliki angka harapan hidup dua kali lebih panjang daripada orang miskin dan sakit. Laporan ini pertama kali ditujukan untuk menguji beban kesakitan yang tidak saja disebabkan oleh penyakit, tapi juga oleh umur, karena ternyata penyakit sangat dipengaruhi oleh spektrum umur. Oleh sebab itulah analisis status kesehatan telah dilaksanakan mulai dari bayi, anak, remaja, orang dewasa dan orang tua. 

Seorang yang hidup di negara termiskin, memiliki angka harapan hidup 43 tahun, di negara maju memiliki angka harapan hidup 78 tahun (WHO, 2000). Seorang yang kaya dan sehat memiliki angka harapan hidup dua kali lebih panjang daripada orang miskin dan sakit. Laporan ini pertama kali ditujukan untuk menguji beban kesakitan yang tidak saja disebabkan oleh penyakit, tapi juga oleh umur, karena ternyata penyakit sangat dipengaruhi oleh spektrum umur. Oleh sebab itulah analisis status kesehatan telah dilaksanakan mulai dari bayi, anak, remaja, orang dewasa dan orang tua. 

Berdasarkan data yang tersedia dan dapat dipercaya serta layak untuk dipertimbangkan, 10 penyebab utama dari kematian, kesakitan dan ketidak mampuan / serta kecacatan telah dapat diidentifikasi. Penjelasan WHO (2000) tersebut dilakukan untuk menjembatani kesenjangan yang ada dalam masalah kesehatan, memperkirakan tren kesehatan di tahun–tahun mendatang, juga usaha untuk merencanakan kesatuan umat manusia di masa datang, suatu masa di mana seorang bayi tidak lagi mati di pangkuan ibunya akibat keterlambatan imunisasi. 

Kesehatan Anak

Angka kematian untuk anak-anak di bawah 5 tahun pada tahun 2000 lebih dari 12,2 milyard. Penyebab kematian di negara berkembang sebagian besar dapat dihindari kalau saja diberi kesempatan untuk memiliki fasilitas kesehatan yang sama dengan negara maju. Gap antara negara berkembang dan negara maju di bidang kesehatan anak dan bayi ini merupakan suatu contoh nyata ketidakadilan dunia di bidang kesehatan (Atmadja,2003). 

WHO (2000) melaporkan, malnutrisi termasuk penyumbang besar bagi penyebab kematian dan kesakitan anak-anak, walaupun hal ini sering terabaikan. Di tahun 1990 lebih dari 30% anak-anak di dunia yang berusia di bawah 5 tahun memiliki berat badan (BB) yang kurang dari seharusnya. Sedangkan 43% dari anak-anak di negara berkembang, yaitu sekitar 230 milyard, memiliki BB yang kurang dari semestinya. Sebagai akibat kekurangan iodium (Hasibuan, 2004). Kurang iodium ini sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di 118 negara termasuk di dalamnya adalah Indonesia, 120.000 bayi lahir dengan keadaan mental terbelakang, kekerdilan, tuli dan bisu bahkan lumpuh. Sedangkan 25% dari anak di bawah usia 5 tahun di negara berkembang memiliki risiko kekurangan vitamin A.

Namun sekarang telah ada perbaikan dalam dunia kesehatan anak, yang terlihat sejak tahun 1993, angka kematian anak akibat panyakit yang telah dapat dicegah dengan vaksinasi mengalami penurunan sebesar 1,3 milyard jika dibandingkan dengan tahun 1985. Meskipun demikian masih ada sekitar 2,4 milyard anak-anak di bawah usia 5 tahun yang meninggal akibat cacar, neonatal tetanus, TBC, pertusis dipteri dan poliomyelitis (Agoestina, 1999) bahkan ada juga tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Sehingga kemajuan di bidang imunisasi ikut terkikis bahkan menjadi berbalik, karena kondisi ekonomi masyarakat yang miskin. 

Setiap tahunnya, di negara berkembang, Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), khususnya pneumonia (radang paru karena masuknya benda asing) telah membunuh lebih dari 4 miliar anak di bawah usia 5 tahun (terjadi kematian setiap detik) dan hal ini juga menjadi penyebab utama kecacatan pada anak-anak. Pengurangan angka kematian sangatlah penting. Hal ini dapat dicapai antara lain dengan menghilangkan bakteri yang menjadi penyebab infeksi dengan antibiotik yang harganya sangat murah. 

Penyakit diare, khususnya yang disebabkan kurangnya air bersih dan sanitasi lingkungan juga turut berperan serta atas kematian 3 milyard anak per tahun di negara berkembang (1 anak setiap 10 detik). Dan adanya hubungan yang sinergis antara kemiskinan dan kurangnya pengetahuan. Kematian akibat diare seharusnya dapat di cegah dengan pemberian garam rehidrasi oral yang hanya menghabiskan biaya sekitar 0,07 dolar AS (Sullivan, 1995). 

Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja 

Di dunia jumlah anak 2,3 milyard atau 40 % dari total penduduk berusia di bawah 20 tahun. Meskipun remaja dan dewasa muda pada umumnya sehat, tapi mereka mudah sekali terkena peyakit-penyakit sosial seperti eksploitasi, ketidakadilan dan risk behaviour. Jika anak-anak remaja menyia-nyiakan kesehatannya di usia muda, maka dunia akan kehilangan kesehatannya di masa mendatang. Pola tingkah laku yang di bentuk pada masa remaja sangat dipengaruhi oleh dunia orang dewasa dan akan sangat menentukan kehidupannya di masa datang serta kesehatan masyarakat dunia pada umumnya. 

Di beberapa negara pelayanan kesehatan sering kali tidak mengacuhkan kebutuhan remaja, dan ada pemikiran bahwa pendidikan, pelatihan dan pekerjaan untuk orang muda belumlah sesuai. Edukasi, walaupun sering terabaikan, adalah hal yang vital dan merupakan penyumbang yang paling besar bagi peningkatan kesehatan anak dan remaja. Sekolah merupakan ajang untuk memberikan pengetahuan / pendidikan mengenai praktik fertilitas yang bijaksana, karena sekolah berkaitan erat dengan status kesehatan dan angka kehamilan. 

Sebuah papan tulis dan sepotong kapur akan sangat berpengaruh seperti layaknya antibiotik dan kontrasepsi dalam perlindungan kesehatan. Perbaikan pendidikan bagi remaja pada umumnya dan remaja putri pada khususnya, adalah salah satu jalan yang paling efektif dalam mempromosikan dan meningkatkan taraf kesehatan bagi remaja putri yang nantinya akan melahirkan generasi penerus yang juga sehat. 

Penyakit hubungan seksual paling sering diderita oleh orang muda yang aktif melakukan hubungan seksual tanpa memperhatikan resikonya. Rata-rata tertinggi untuk penyakit hubungan seksual terlihat pada kelompok umur 20-24 tahun, diikuti oleh kelompok umur 15-29 tahun dan 25-29 tahun. Namun demikian puncak umur pada anak wanita adalah lebih rendah dibanding anak pria (Atmadja,2003)

Pada saat yang sama, HIV dan AIDS memiliki efek yang menghancurkan orang muda. Di banyak negara berkembang, infeksi HIV terjadi pada orang muda usia 15-24 tahun. Secara keseluruhan diperkirakan 50% dari infeksi global HIV menyerang orang di bawah usia 20 tahun (WHO, 2000). Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2000) menemukan bahwa 26,35% dari 846 peristiwa pernikahan di Yogya, telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah, di mana 50% nya menyebabkan kehamilan. Motivasi utama melakukan hubungan seks adalah suka sama suka (3S) 76% di Jakarta dan 75,6% di Yogyakarta, selebihnya karena pengaruh teman / kebutuhan biologis (14%) dan kurang taat beragama (16%). 

Atmadja Sardjana (2003) melaporkan bahwa dari 585 pasangan muda yang datang ke RSB Permata Hati, Malang 78% mengaku melakukan seksual pertama kali dengan pacarnya sebelum menikah, 64% diantaranya di lakukan ketika berumur 16 – 19 tahun, 85% nya melakukan hubungan seksualnya di rumahya sendiri. Dengan demikian harapan generasi penerus yang kelak bertugas sebagai pencari nafkah dan penyambung kehidupan dalam keadaan bahaya. 

Banyak industriawan bermutu yang sebenarnya dapat membuat dunia menjadi lebih baik dan menentukan nasib negaranya, secara tragis mengalami kematian jauh lebih awal akibat terinfeksi HIV. Hal-hal lain yang membahayakan kesehatan orang muda adalah tembakau, alkohol, penyalahgunaan obat, eksploitasi, dan sering kali juga karena pekerjaan yang illegal, serta pertumbuhan anak-anak jalanan yang mengkhawatirkan.
Menurut perkiraan terakhir ada sekitar 100 milyard anak jalanan terkena risiko malnutrisi, penyakit infeksi, penyakit hubungan seksual termasuk HIV atau AIDS, dan eksploitasi kriminal dan seksual. 

Strategi Pembinaan 

Pembinaan kesehatan reproduksi remaja diarahkan untuk meningkatkan kesehatan reproduksi remaja sebagai bagian dari peningkatan status kesehatannya, dan peningkatan peran serta remaja secara aktif dalam kesehatan keluarga, dengan dukungan kerjasama lintas program dan lintas sektoral. Peningkatan kesehatan reproduksi remaja dilaksanakan melalui jaringan pelayanan upaya kesehatan dasar dan rujukan yang telah ada, sedangkan penanggulangan permasalahan psikososial yang berkaitan dengan aspek reproduksi dilaksanakan dengan memperbanyak forum konsultasi dan bimbingan kesehatan reproduksi melalui berbagai jalur pembinaan remaja. Berkaitan dengan hal tersebut maka perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut: (1) Meningkatan kemampuan dan ketrampilan pengelola program di setiap jenjang administrasi dalam rangka penatalaksanaan kesehatan reproduksi remaja. Untuk itu dapat dilakukan dengan lebih mendorong tumbuhnya peran serta berbagai pihak dalam pelayanan, pembinaan dan bimbingan kesehatan reproduksi remaja, perlu dilaksanakan program yang komprehensif, koordinatif serta berkesinambungan. (2) Memprakarsai peningkatan koordinasi dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi kesehatan reproduksi remaja, baik lintas sektor maupun lintas program. Dengan cara meningkatkan kemampuan di bidang manajerial dan tekhnologi para pengelola program dan petugas pelayanan di berbagai tingkat agar mampu membina kesehatan reproduksi remaja dengan menggunakan berbagai jalur, baik keluarga, sekolah maupun masyarakat serta organisasi remaja seperti OSIS, Karang Taruna, Pramuka, Palang Merah Remaja dan sebagainya. (3) Mengembangkan program-program komunikasi, informasi dan edukasi (KIE). Hal ini dapat dilakukan melalui media cetak, media elektronik, media tradisional dan interpersonal, baik secara langsung maupun terintegrasi dengan program unit dan sektor lain, misalnya PSM, EPIM, BKKBN dan lain-lain. Menyelenggarakan pertolongan (dalam bentuk pelayanan kesehatan langsung) dan pengayoman (dalam bentuk bimbingan) bagi remaja dengan gangguan masalah reproduksi. Melaksanakan fungsi rujukan dalam penanggulangan masalah kesehatan reproduksi remaja. 

Sebagai akhir dari buah pikiran ini, yang dapat direnungkan dan dilaksanakan sesegera mungkin yaitu: (1) Meningkatkan peran aktif remaja untuk lebih mengetahui, memahami dan memecahkan masalah kesehatan reproduksi sebagai bagian dari kesehatan diri dan lingkungannya melalui penyuluhan. (2) Mengembangkan perangkat pemantauan dan melakukan monitoring serta evaluasi. (3) Melakukan studi-studi operasional terpilih (pengumpulan data dasar kesehatan reproduksi untuk menilai keberhasilan program, menguji sensitifitas indicator. (4) Melakukan studi-studi untuk mencari metode intervensi yang tepat guna. 

Hal-hal tersebut di atas sangatlah penting untuk dilakukan guna mengatasi masalah-masalah kesehatan pada anak dan remaja pada umumnya serta demi kelangsungan hidup generasi mendatang yang sehat, kuat, kreatif dan cerdas.

Oleh: Rachma Hasibuan* dan Sardjana Atmadja**
*) Dosen Program PGTK FIP- Universitas Negeri Surabaya
**) Dosen Fak Kedokteran dan Ilmu kesehatan UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
Sumber: JURNAL PENDIDIKAN DASAR, VOL. 7, NO.1, 2006: 14-18
 

Read More »
09:28 | 0 komentar

Tips Siapkan Persalinan

Bagi Anda yang saat ini tengah hamil dan dalam waktu dekat akan segera melahirkan, ada baiknya Anda mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk persalinan nanti agar tidak repot ketika si kecil mulai 'memaksa' untuk segera bertemu ibunya. Ada beberapa tips yang dapat Anda lakukan dalam mempersiapkan proses persalinan :

Untuk Ibu
  1. Siapkan paling tidak 2 - 3 daster atau baju tidur dengan kancing di depan agar mudah saat memakai dan melepaskannya.
  2. Satu set pakaian untuk Anda pulang dari rumah sakit.
  3. Sepasang sandal, untuk Anda berjalan di rumah sakit dan agar menjaga kaki Anda tetap hangat.
  4. Pakaian dalam. Bawa juga Bra untuk menyusui dan celana dalam secukupnya.
  5. Pembalut wanita khusus ibu bersalin. Tapi jika Anda tidak mendapatkannya, Anda bisa menggunakan pembalut biasa yang extra long atau pembalut yang biasa Anda pakai sebanyak 2 - 3 kali lipat dari pemakaian biasanya.
  6. Gurita atau korset khusus untuk ibu bersalin, Anda bisa mendapatkannya di toko-toko yang menjual perlengkapan bayi.
  7. Perlengkapan Anda sehari-hari. Bawalah bedak tabur, bedak compact, sisir, lipstik, parfum dan perlengkapan Anda lainnya untuk menyambut teman atau kerabat ketika menjenguk Anda setelah proses persalinan. 
  8. Perlengkapan mandi seperti handuk, sabun, pasta gigi, sikat gigi dan pembersih wajah. Pada beberapa rumah sakit sudah disediakan, namun bila Anda ingin menggunakan milik Anda sendiri ada baiknya dipersiapkan.

Untuk Bayi

Biasanya rumah sakit sudah menyediakan segala macam perlengkapan bayi, sehingga Anda cukup menyediakan persiapan ketika pulang dari rumah sakit.
  1. Popok, bawa saja beberapa buah.
  2. Baju bayi, bawa saja 2 - 3 buah baju. Karena terkadang bayi mengalami Gumoh (memuntahkan sedikit susu karena kekenyangan)
  3. Selimut atau bedong untuk menghangatkan bayi.
  4. Kaos kaki dan tangan bayi.
  5. Kain untuk menggendong.
  6. Bawa juga jaket atau Mantel untuk bayi.
Letakkan keperluan Ibu dan bayi dalam tas yang berbeda agar lebih mudah mencarinya.
 

Read More »
10:02 | 0 komentar

Empat Tanda Melahirkan

Bagi Anda yang saat ini sedang hamil pertama, tentu ada beberapa pertanyaan dalam diri Anda tentang bagaimana tanda-tanda melahirkan. Bertanya kepada orang yang sudah berpengalaman, baik itu dokter maupun ibu, mertua bahkan sahabat Anda merupakan jalan yang baik. Bisa jadi informasi ini berguna juga untuk Anda :

1. Bercak darah
Bercak darah berwarna merah muda atau agak kecoklatan pada celana dalam. Bisa jadi ini merupakan tanda bahwa servik menunjukkan adanya perubahan dengan cara menipis atau mendorong kebawah sebagai persiapan melahirkan.

Bisa jadi waktu kelahiran semakin dekat, namun bukan dalam hitungan hari lagi tapi sudah dalam hitungan jam. Sebaiknya Anda mempersiapkan diri dan menghubungi suami dan kerabat dekat untuk mendampingi Anda.

2. Lendir yang agak menggumpal
Servik sebenarnya "disumbat" oleh segumpal lendir tebal yang melindungi bayi selama masa kehamilan dengan cara menahan sesuatu masuk kedalam uterus. Saat servik berubah dan semakin menipis, bagian dari gumpalan lendir itu sedikit-demi sedikit terlepas. Jumlah lendir yang keluar bisa sedikit, bisa juga banyak, tergantung seberapa cepat perubahan ini terjadi.

3. Ingin buang air besar
Perasaan mulas seperti ingin buang air besar (BAB). BAB adalah cara alamiah dari tubuh Anda saat akan melahirkan. Ini juga sekaligus membersihkan perut Anda dan memberi tempat pada bayi agar lahir dengan cepat melalui vagina.

4. Sakit Punggung
Terkadang punggung terasa nyeri dan pegal, namun kondisi ini timbul tenggelam. Hal ini menunjukkan terjadinya kontraksi, jika sakitnya terasa terus menerus maka bisa jadi tanda kelahiran semakin dekat dan menunjukkan bahwa posisi bayi sudah berada di tempat yang tepat.
 

Read More »
09:58 | 0 komentar

Kenali 5 Tanda Kehamilan

Pada kehamilan pertama, sebagian besar wanita tidak menyadari bahwa dirinya sedang hamil. Sehingga tidak berhati-hati ketika melakukan kegiatan yang berakibat pada keguguran. Ada beberapa tanda kehamilan seperti yang ada pada situs webMD.

1. Periode Haid yang terlewatkan
Apabila Anda mendapati periode haid Anda yang tidak kunjung datang beberapa bulan, bisa jadi Anda tengah hamil. Tapi ini bukan hal yang pasti, bisa jadi stres dan faktor lain memengaruhi kondisi hormon yang berakibat pada tidak teraturnya jadwal haid.

2. Sering ke kamar mandi
Sebagian besar wanita yang tengah hamil dilaporkan sering 'bolak-balik' kamar mandi untuk buang air kecil. Bahkan saat Anda terlelap di malam hari sekalipun. Hal ini disebabkan karena embrio telah tertanam di dalam uterus dan mulai memproduksi hormon ketika hamil yang disebut dengan Human Chorionic Gonadotropin (HCG). Hormon ini yang menyebabkan frekuensi buang air kecil semakin sering.

3. Lelah
Rasa lelah yang teramat sangat merupakan tanda awal kehamilan. Kelelahan terjadi akibat tingginya tingkat progesteron.

4. Morning Sickness.
Perasaan mualtidak hanya terbatas pada pagi hari, tetapi juga terasa baik pada siang maupun malam. Sebagian besar wanita hamil mangalami apa yang disebut morning sickness, yakni perasaan mual dan mabuk seharian. Separuh dari wanita tersebut muntah, tetapi sebagian yang lain mengalami dehidrasi dan kekurangan protein.

5. Perubahan pada Payudara
Jika Anda hamil, payudara Anda akan terasa lebih kenyal ketika di tekan, selain itu juga terasa sakit. Perubahan yang terjadi pada tubuh Anda, lazimnya juga akan merubah bentuk payudara Anda menjadi lebih besar. Namun, rasa sakit secara perlahan akan menghilang dengan sendirinya.

Read More »
09:52 | 0 komentar

Pergeseran Budaya dan Prilaku Hedonisme dikalangan Remaja

Kalau Anda berkenan untuk sejenak berhenti dari kesibukan membuat tugas kuliah atau diskusi tentang mata kuliah, baik kalau kita menjadi lebih kritis untuk mengamati kecenderungan perilaku kaum muda remaja dewasa ini yang tentunya menarik untuk dipikirkan bersama.

Semakin pesatnya tren kapitalisme dan konglomerasi elite tertentu maka pertumbuhan kwantitatif tempat-tempat hiburan dan pusat-pusat perbelanjaan semakin berkembang bak jamur dimusim hujan. Fenomena tersebut secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi budaya dan pola hidup kaum muda remaja sekarang. Pergeseran budaya mulai menjangkiti kaum muda remaja tanpa kompromi dan eksodus besar-besaran tentang paradigma berpikir kaum muda remaja, dari budaya timur menuju budaya barat. Anda dapat melihat kaum muda remaja hedonis bersliweran dengan berbagai mode rambut dengan busana thank top atau junkies, dan alat-alat digital lainnya. Iklim masyarakat sekarang jauh berbeda dengan masyarakat tempo dulu. Namun, bila gejala ini kita telaah lebih lanjut bahwa kaum muda remaja telah jatuh kedalam euforia budaya pop. Selanjutnya kaum muda remaja yang seharusnya menjadi homo significans malahan jatuh kedalam pendangkalan nilai hidup.

Tulisan ini hanya mengajak para pembaca untuk merenungi dampak globalisasi tanpa harus terjerat ke dalam arus pendangkalan hidup post-modernisasi dan bagaimana hal tersebut tidak menggerogoti nilai-nilai positif yang menjadi warisan budaya kita.


Euforia Budaya Pop Remaja : Buah Globalisasi

Manusia harus berubah. Itulah hal yang mendasar yang perlu dipikirkan secara bersama. Memang benar bahwasannya manusia dengan segala budaya dan akal budinya harus dikembangkan seoptimal mungkin, karena akan semakin mengkokohkan kedudukannya dimuka bumi sebagai God Creature yang sempurna dibandingkan dengan ciptaan lainnya.

Kali ini, manusia beralih menuju rentang waktu yang kontradiksional dengan fase-fase sebelumnya, yaitu fase globalisasi. Di satu sisi manusia memang dituntut untuk berkembang menuju kearah yang lebih modern, baik aspek teknologi, hukum, sosial/kesejahteraan sosial, politik, demokrasi, dan semua sistem lainnya harus disempurnakan. Teknologi bidang informatika, kedokteran, bioteknologi, dan transportasi mengalami perkembangan yang begitu dahsyat mengatasi batas-batas ruang dan waktu.
Namun, tidak boleh dilupakan bahwa hasil perkembangan manusia bersifat relatif dan ambivalen. Pengaruh negatif dari globalisasi adalah euforia budaya pop, perdagangan bebas, marginalisasi kaum lemah, dan timbulnya gap relation antaara si kaya dan si miskin. Hasil tersebut telah membentuk suatu budaya baru bagi masyarakat, khususnya kaum muda remaja menjadi manusia yang terjebak dalam arus budaya pop.


Penghayatan Hidup dikalanagan Remaja yang Semakin Mendangkal

Ilustrasi di awal tulisan ini hanyalah sekelumit deskrispsi yang membuktikan eksistensi kecenderungan dalam diri manusia modern. Masih banyak contoh-contoh lain sebagai hasil dari globalisasi. kaum muda remaja dewasa ini lebih suka membaca komik atau main game daripada harus membaca buku-buku bermutu. Bacaan dengan analisis mendalam dan novel-novel bermutu hanya menjadi bagian kecil dari skala prioritas mereka, bahan-bahan bacaan seperti itu hanya tersentuh jika terpaksa atau karena tuntutan akademis.

Anda dapat mengelak bahwa gejala-gejala ini merupakan bentuk adaptif dari kemajuan zaman. Tapi, itu adalah rasionalisasi. Sebenarnya, kecenderungan manusia sekarang bukan hanya sekedar masalah mengikuti perkembangan zaman melainkan hal ini adalah masalah gengsi dan penghayatan hidup.

Bukti yang paling mengena adalah televisi, berbagai acara televisi semakin hari semakin jauh dari idealisme jurnalistik, bahkan semakin melegalkan budaya kekerasan, instanisasi, dan bentuk-bentuk kriminalitas. Sebagian tayangan-tayangan tersebut hanya semakin mendangkalkan sifat afektif manusia. Tayangan mengenai bencana alam, kemiskinan, perang, kelaparan, penemuan teknologi, pembelajaran budaya, dan lain sebagainya telah membuat sisi afeksi manusia tidak peka terhadap hal tersebut. Tidak ada proses batin dan intelektual lebih lanjut. Penghayatan nilai-nilai luhur semakin tereduksi.

Eksistensi kaum muda remaja hanya ditempatkan pada pengakuan-pengakuan sementara, misalnya seorang remaja dianggap eksistensinya ada jika remaja tersebut masuk menjadi anggota geng motor, menggunakan baju-baju bermerk, menggunakan blueberry, dugem, clubbing, melakukan freesex, ngedrugs, dan lain sebagainya. Eksistensi kaum muda remaja hanya dihargai sebatas kepemilikan dan status semata. Jika pendangkalan ini terus dipelihara dan dibudidayakan dikalangan remaja kita, makna dan penghargaan terhadap insan manusia semakin jauh. Hasilnya adalah menghilangnya penghargaan terhadap manusia lainnya, misalnya: perang, pemerkosaan, komersialisasi organ tubuh, trafficking, tawuran, dll. Contoh-contoh ini menjadi indikasi kehancuran sebuah kebudayaan yang dimulai dari pergeseran nilai-nilai budaya di kalangan kaum muda remaja kita. Dampak yang sangat menyedihkan dan mengkhawatirkan!


Solusi : Internalisasi

Seperti diungkapkan sebelumnya bahwa manusia sebagai homo significans, pada hakikatnya menjadikan manusia sebagai manusia pemberi makna. Jurus paling ampuh untuk mengatasi pendangkalan hidup post-modernisasi adalah pengendapan atau internalisasi. Internalisasi merupakan proses memaknai kembali makna-makna hidup. Makna hidup yang tadinya dihargai secara dangkal, kali ini digali dan diselami.

Ada dua metode internalisasi yang ditawarkan, yaitu budaya refleksi dan keheningan. Keduanya saling komplementer dan tidak dapat dipisahkan jika hendak melawan arus budaya pop. Refleksi membutuhkan suasana hening. Keheningan jiwa dapat tercapai saat berefleksi. Secara etimologis, refleksi berasal dari verbum compositum bahasa Latin re-flectere, artinya antara lain, memutar balik, memalingkan, mengembalikan, memantulkan, dan memikirkan. Kiranya, dua arti terakhir yang cocok untuk mendefinisikan refleksi dalam kerangka permenungan ini. Refleksi adalah usaha untuk melihat kembali sesuatu secara mendalam dengan menggunakan pikiran dan afeksi hingga dapat menemukan nilai yang mulia yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bekal hidup. Euforia budaya pop di masa globalisasi menawarkan begitu banyak hal yang hanya berakhir menjadi kesan-kesan tanpa satupun yang dapat dialami. Dengan budaya refleksi, kesan-kesan tersebut dapat diendapkan. Secara satu persatu pengalaman negatif maupun positif dapat dianalisis, dipertimbangkan, disimpulkan, dan akhirnya diendapkan dalam nurani. Proses inilah yang membuat kaum muda remaja dapat menyadari baik dan buruknya suatu sikap. Dalam proses ini juga kaum muda remaja diajak untuk menindaklanjuti berbagai pengalaman yang didapat, sehingga muncul nilai-nilai dari setiap kejadian yang dialami, dan tentunya nilai tersebut dapat menjadi bekal hidup selanjutnya.

Peran refleksi dalam kerangka ini juga sebagai nabi, untuk mengingatkan segala larangan ataupun perintah Tuhan yang diajarkan. Refleksi berperan menjadi fungsi kritis dalam diri kaum muda remaja. Saat ia mengalami pendangkalan nilai-nilai hidup dalam bentuk pragmatisme, konformitas buta dan sebagainya. Refleksi menunjukkan kesalahannya, dan mengarahkan kepada yang benar.

Oleh karena itu kita sebagai kaum muda remaja harus mampu merubah diri kita menjadi manusia yang bermakna bagi orang lain melalui sikap dan perilaku sehari-hari. Usaha ini hanya bisa tercapai melalui usaha pribadi bukan orang lain, ada pepatah mengatakan jangan mengubah orang lain sebelum bisa mengubah diri sendiri. Selamat berefleksi wahai para remaja ... !
 

Read More »
16:12 | 0 komentar